Sabtu, 28 Mei 2016

Liana



"Buku usang itu kini ada dihadapan nya, dan dia sangat tau bahwa didalam nya ada sebuah kenangan, yang akan membuat nya tersenyum dan seketika menangis. Ya aku tau sekarang, ada duri dibalik bunga indah itu, yang membuatnya meringis kesakitan ditemani air matanya yang mengalir bersama kenangan. Dia kembali mengingatnya, suatu hal yang membuatnya marah bersama air mata, kini teringat lagi dipikiran nya. Sampai kapan itu semua terjadi?"
**
Aku jadi teringat pada masa yang telah lalu, tentang seseorang yang ku kenal di pasar malam. Entah kenapa sampai sekarang, ingatan tentang nya tak pernah terlepas dari pikiranku. Mungkin karena dia manis atau mungkin karena dia menarik, saat itu senyum nya terlihat malu - malu sehingga membuatku semakin ingin mengenalnya lebih jauh lagi.
Setelah kejadian itu aku jadi sering datang ke pasar malam, hanya sekedar ingin bertemu dengan nya dan memang betul aku melihat dia lagi, persis ditempat pertama kali aku melihatnya tepat didepan sebuah rumah kecil tempat menjual lukisan.
Aku mencoba mendekatinya, tapi dia malah berlari menjauh seakan - akan sedang mempermainkanku. Dia berlari kedalam rumah itu, aku mengikuti nya dari belakang. Memang benar kata orang disini banyak lukisan yang bagus karya 1970. Aku jadi sedikit melupakannya, pandanganku beralih melihat lukisan - lukisan yang menempel di dinding. Hingga tepat di ujung rumah itu, aku menemukan nya. Gadis manis yang selalu memperlihatkan senyuman manisnya padaku, tepat dihadapanku dia duduk dikursi tua ditemani senyuman manisnya.
Dan baru ku ingat sekarang, siapa dia yang ku lihat ini. Dia Liana seseorang yang selalu di ceritakan kakek kepada cucu - cucunya. Tentang kebaikan nya dan ketulusan nya, Liana gadis kecil yang selalu menolong hidup semua orang dan ada dalam semua khayal mereka.

***
Penulis : Dina Wulandari
Lembang, 29 Mei 2016